Lebah Penebar Kebaikan (In Sya'a Allah) #versi penuh cinta

Hasil Tak Nak Bertasyabbuh

Lebah penebar madu kebaikan... (In Sya’a Allah)

Subuh yang Idah bersamamu, Ya Rasulullah

January 23, 2014

Posted by Unknown On 07:50

Beberapa hari yang lalu, saya iseng membuka notes yang saya buat di laman sosmed FB... Tanpa sengaja jemari ini membuka sebuah notes yang dikirim oleh seorang senior yang jauh di Riau sana...
Alhamdulillah tulisannya sangat bermanfaat. Tak ingin tulisan ini tertumpuk tak berarti maka saya mencoba membagikannya.

Bismillahirohmanirrohim…
Istiqomah Pasca Lulus
sumber : embun tarbiyah

Ada pertanyaan menarik dari seorang adik. ”Mbak, apakah kalo kerja itu ada peraturan untuk mendekin jilbab? Koq saya lihat banyak akhwat-akhwat yang setelah bekerja mereka memendekkkan jilbabnya, meskipun tetap nutup dada tapi jilbabnya jadi tambah pendek, ketat dan modis, jauh dari penampilan mereka ketika di kampus dulu.”

Ada yang mau menjawab?

Tergantung dimana akhwat itu bekerja dan bagaimana pula akhwat itu tetap istiqomah di tempat kerjanya. Selama ini alhamdulillah saya ga bermasalah dengan jilbab lebar di tempat kerja. Tapi mungkin di tempat lain beda kondisinya. Tapi yang jelas, diri kita adalah pemimpin bagi diri kita, jadi pilihan ada pada diri kita sendiri.

Di tulisan-tulisan sebelumnya, ”Lulus=Futur?”, ”Luntur karena Futur” dan beberapa tulisan yang lain (lupa judulnya), coba dibuka lagi, sudah sering membahas tentang banyaknya aktifis dakwah yang futur setelah lulus. Banyak yang menjadi luntur, bukannya mewarnai tapi malah terwarnai oleh kondisi di sekitarnya.

Ketika di kampus, kita bisa merasa save karena banyak temen seperjuangan, sepemikiran. Ketika kita pulang ke rumah atau terjun ke masyarakat ketika udah lulus, saat itulah teruji keistiqomahan kita. Bagaimana kita tetap istiqomah dalam menjaga prinsip-prinsip Islam dan istiqomah tetep berada dalam jalan dakwah meskipun di lingkungan itu kita hanya punya sedikit temen atau bahkan kita menjadi satu-satunya, bismillah, jadi perintis dakwah

Beberapa waktu yang lalu saat mampir ke masjid kampus tercinta, senengnya melihat adek-adek akhwat yang berjilbab lebar meskipun mereka masih belum lama jadi mahasiswa dan belum lama juga beraktivitas di dakwah kampus mereka begitu semangat menjadi panitia penyambutan mahasiswa baru di LDK dan kajian jurusannya. Dalam hati saya berdo’a, semoga mereka bisa tetep istiqomah sampai kapanpun.

Memang seringkali dijumpai, banyak akhwat yang dulunya ketika di kampus berjilbab lebar, bergamis atau pakai rok lebar, tiba-tiba setelah lama ga ketemu setelah lulus menjadi beda penampilannya. Jilbabnya jadi semakin pendek, ada yang dililit ke belakang, ada yang model sobekan (sekarang ga hanya rok atau celana ya yang model disobek, ada model jilbab terbaru, jilbab sobekan, he..he..), ada yang pakai celana bahkan ada yang pacaran, na’udzubillah. Ada yang sudah tak lagi mau memegang amanah dengan alasan sibuk, dan bahkan tak jarang di antaranya yang tak lagi ngaji.

Ada pula yang sekenanya aja dalam bekerja, tak peduli lagi mana yang halal dan mana yang haram. Ikut terlarut dalam korupsi mulai kecl2an sampai besar2an. Ada banyak uang basah di sekitarnya, bagaimana menyikapinya? Mungkin ada yang awalnya diem aja, “Yang penting bukan aku yang korupsi”, lama kelamaan “Gpp wis, ntar dibersihkan hartanya”. Emang semudah itu? Padahal uang yang kita hasilkan dalam bekerja akan kita makan bersama keluarga kita, akan mendarah daging dalam tubuh kita, apakah kita akan membiarkan ada sesuatu yang haram masuk ke dalam tubuh kita atau keluarga kita meskipun itu sedikit?

Jadi teringat crita seorang akhwat yang habis lulus dari kuliahnya di akutansi. Memang banyak lowongan di bidang akutansi tapi cari yang bener-bener halal ternyata susah. Pernah suatu ketika saat sedang wawancara kerja, akhwat itu ditanyai, “Bersedia tidak membuat laporan manipulasi?” Kontan aja akhwat itu menjawab “Maaf pak, saya tidak bersedia, saya ingin bekerja dengan jujur” Akhwat itu bersyukur meskipun dia tidak diterima disitu.

Ada banyak crita juga banyak akhwat yang ketika nglamar bekerja di perusahaan-perusahaan, mereka disyaratkan untuk melepas jilbabnya atau memendekkan jilbabnya ada pula yang mensyaratkan harus pakai celana. Apakah demi mendapatkan pekerjaan seorang akhwat akan menurutinya?

Ada banyak pula perusahaan yang mensyaratkan pekerjanya harus siap lembur, ada pula yang memberlakukan sift malam jam 20.00 sampai 03.00 pagi, apakah akhsan seorang akhwat bekerja seperti itu? Apakah demi mendapat pekerjaan atau uang atau alasan yang lain seorang akhwat akan menyanggupinya?

Kalau lihat fenomena2 ikhwah di atas, dalam hati bertanya, kemana idealisme dan prinsip-prinsip yang mereka dengung2kan selama ini. Apakah jika status mahasiswa tidak lagi disandang, prinsip-prinsip Islam juga tak lagi ditegakkan? Koq bisa ya? Sebenarnya akar permasalahannya dimana? Dan bagaimana solusinya supaya kader yang sudah lama terbina, yang sebelumnya militan tetep jadi kader militan sepanjang masa dan tak jadi luntur setelah lulus?

Kembali pada tarbiyah. Memang, tarbiyah bukan segala-galanya tapi segala-galanya bisa berawal dari tarbiyah. Coba, ditelusuri, para ikhwah yang bermasalah tadi, yang menjadi luntur atau futur tadi, bagimana dengan tarbiyah atau pembinaan mereka, sehat atau tidak? Tarbiyah tidak sekedar transfer materi dari murobi ke mutarobi. Tarbiyah merupakan proses Tansyi’ah (Pembentukan), Ar-Riayah (Pemeliharaan), At-Tanmiyah (Pengembangan), At-Taujjh (Pengarahan) dan At-Tauzif (Pemberdayaan).

Buat adik-adikku yang masih di dakwah kampus, tetaplah istiqomah dan kumpulkan bekal sebanyak mungkin dan kuatkan ruhiyah kalian untuk menghadapi dunia pasca kampus nanti. Kuatkan tarbiyah, pererat ukhuwah. Manfaatkan ‘waktu emas’ kalian selama di kampus. Kampus ibarat ‘kawah candradimuka’ untuk membekali diri terjun di kancah dakwah yang sebenarnya ketika kalian lulus nanti.

Buat saudara-saudaraku yang telah lulus, tetaplah istiqomah dalam tarbiyah dan dakwah. Tidak ada namanya pensiun atau lulus dari dakwah. Tetaplah istiqomah menjaga prinsip-prinsip Islam yang telah kita dapatkan selama ini. Ingatlah apa yang telah kita berikan ilmunya ke binaan-binaan atau adek-adek kita dulu. Tidak ada kata terlambat.

“Hari orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.

(Ash-Shaff:2-3)

Wallahu a’lam bishawab

January 14, 2014

Posted by Unknown On 12:16


Tulisan ini di buat pada hari ke lima dalam minggu ini, Al-Khamis, 9 Januari 2014, yang mana tulisan ini tak kunjung selesai di hari itu, dan dilanjut kemudian di hari ke-enam, Al-jumu’ah, dan diselesaikan serta diterbitkan di hari ke-tujuh, As-Sabi’... #edisimenulisleler

11 Januari 2014

Di sebuah kota bernama Kandis, dengan senyum terpampang manis, yuk mari kita menulis...
Di keremajaan usia tahun 2014 yang masih sangat labil, selabil semangat-ku dalam bidang tulis menulis.
Dalam kelabilan ini, hadirlah seorang saudariku yang berada nun jauh di mata, tapi dekat di jiwa, *aheee... Di sebuah pulau indah yang sangat ingin kusambangi, tempat dimana ombo batu berada, dimana jua ombak bermain-main ceria, dan dimana pasir pantai begitu menggoda, Nias Island.

Dia salah seorang saudari, yang hingga kini masih sering menyambangi hidupku, hadir di dunia nyata, di dunia maya dan bahkan di alam mimpi, haha... #LEBAI MODE : ON

Dan Seperti ini adalah salah satu bentuk sambangannya malam ini, terwujud dalam bentuk sms, yang bunyinya : “Assalamu’alaykum,, rik bsk nerbitin tulisan ya. Tema terserah. Jdwalnya senin kamis biar inget skalian puasa. Oke ciin... Miss u.”

Sebuah sambangan penuh intimidasi tapi jua romantis. Haha, karena maksa untuk nerbitin tulisan, tapi diakhiri dengan kalimat kerinduan, yaaah, yang tak dipungkiri juga kurasakan. Dia saudari yang baik bukan?

Well, jadi aku dan saudariku ini (saudariku yang sangat senang berarak seperti awan, “aozora utsukushi”, semoga di setiap tempat persinggahannya selalu ada bulir hujan yang memberikan manfaat bagi sekitarnya ya, aamiin...) punya perjanjian untuk saling menguatkan, mengingatkan dan menyemangatkan satu sama lain, agar bisa terus menghidupkan kehidupan. Walau di tempat berbeda, walau jauh, namun dekatlah di hati, seperti bintang dan bulan, jauh namun selalu terang, *iniliriklagubukansih? *Abaikan

Perjanjian itu terjadi ketika kami sedang berada dalam kondisi semangat yang serupa, semangat yang tidak seharusnya begitu, “tak kelas-lah”. Perjanjian itu kami tuangkan dalam sebuah MoU yang akhirnya diwujudkan dalam bentuk sebuah blog dan twitter (*yang ini tugas saya dan belum saya realisasikan, colek Rahmi, haha, maaf mik, edisi partner sok sibuk). Nah, walhasil terbitlah blog bernama longlifetarbiyah.blogspot.com ini, dengan alasan pemilihan nama bisa di baca di postingan cik Aozora sebelumnya ya.

Tapi, begitulah, selama 2 minggu masa hidupnya, blog ini sepi hanya terisi dua postingan saja. Mungkin karena gerah akan hal itu, Rahmi si awan berarak akhirnya mengirimiku sms penuh cinta seperti di atas. Well, aku menerimanya sebagai sebuah pengingatan yang manis.

Dan, pengingatan itu sepertinya akan manjur untuk membuat kami menulis (lagi) untuk saling mengingatkan satu sama lain, yah, kalau berharap lebih sih ada insan lain yang akan terciprat manfaat dari apa yang kami orat-oret di blog ini.

Dan kedepannya aku berharap aku bisa lebih disiplin untuk mengingatkan diri sendiri terlebih dahulu, lalu mengingatkan saudariku dan mengingatkan kami berdua kemudian berharap bisa mengingatkan dalam spektrum yang lebih luas lagi.

Karena seperti sebuah quote yang kubaca malam ini, yang membuat aku berjanji untuk berlatih keras dan cerdas dalam hal ini (red:menulis) dan akan menghapus semua fikiran buruk yang muncul di benakku mengenai apa hasil yang akan terjadi dan melakukan yang terbaik, seperti apapun hasilnya nanti, karena apa? Karena “semakin lama kita menunda untuk melakukan semakin lama pula kita akan merasakan keberhasilan yang ingin kita capai”. Sementara itu waktu terus bergulir, tapi amal belum terukir, lantas apa yang bisa kita pertanggungjawabkan kelak dihadapan-Nya?

Jadi, mari Sri menjadi lebih disiplin dalam mempergunakan masa. Mari juga Rahmi! Dan Mari para juga pembaca yang budiman!

Baiklah itu saja kali ini, semoga tulisan selanjutnya lebih baik dan lebih sistematis di banding hari ini yang ngalor ngidul begini.

Aku akan menutupnya dengan memberikan sebuah puisi yang sempat ku kutip dari seorang penulis yang aku suka caranya menulis.

Tentang cinta,

CINTA

Cinta adalah gugurnya bebaris gerimis, untuk selengkung pelangi yang barangkali...

Cinta adalah jatuhnya reranting kering, untuk setumbuh tunas yang mungkin...

Cinta adalah turunnya malam hari, untuk pagi yang matahari...

Cinta adalah sementaranya pergi, untuk datang yang abadi...

(M Aan Mansyur)

Dan aku berharap bisa menghadirkan cinta di setiap tulisan. Untuk bisa memberikan manfaat tak hanya selagi nafas berderap dalam tubuh, tapi jua ketika ia bergerak perlahan ataupun secara meninggalkan tubuh ini, manfaat yang tertinggal, lekat dan hikmat... 

Terimakasih kembali Rahmi, sudah berkenan menyambangi hidup seorang sahabat seperti ini, yang leler dan sok sibuk, dan berkenan jua menerima ide-ide yang kadang di luar nalar, haha... :D uhibbukifillah Rahmi, semoga menjadi amal jariyah.

#edisitulisanbanyakungkapancintaini.

Wassalam

Salamsuksesbahagiaduniaakhirat ^_^)9

January 10, 2014

Posted by Unknown On 12:35

“kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. 
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.”
(An-Nahl-69)


Alhamdulillah wa syukurillah di hari Jum’at yang barokah ini Allah masih memberi kesempatan kepada saya mengelola blog yang baru ini. :D Meski belum sesempurna blog para pecinta blogger tapi saya tetap berharap tulisan tanpa tinta yang hadir di blog ini mampu memberi makna di setiap hati para penulis terutama pembacanya.

Kali ini saya ingin bercerita sedikit tentang sejarah hadirnya blog ini di dunia maya. Ada banyak makna yang mengiringi kehadiran blog yang saya dan sahabat saya beri nama “Lebah Penebar Kebaikan”. 

Saya dan sahabat saya saat ini berada di tempat yang terpisah ribuan kilometer. Lebih dari 4 tahun kami bersama-sama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa dan aktivis tentunya. Hari-hari di isi dengan agenda yang padat seperti kuliah, syuro’ organisasi, dan pernah beberapa kali berwirausaha bersama. Setelah tamat dari perkuliahan, kami tetap keep in contact. Saling bertanya kabar, saling menyemangati, saling menasehati dan In Sya’a Allah saling mendoakan. Berada dalam dimensi kehidupan yang jauh berbeda dengan dunia kampus dulu, membuat kami harus beradaptasi. Tak jarang kondisi ini melemahkan ruhiyah, pasalnya kami tidak lagi mengikuti Tasqif, Tallaqi bahkan halaqoh. Keadaan menuntut kami untuk tarbiyah dzatiyah. 

Beberapa waktu terakhir, kami kehilangan semangat. Rutinitas yang "begitu-begitu saja" di setiap harinya membuat kami masuk dalam zona "boring" yang menyiksa. Memang benarlah, orang yang biasanya sibuk ketika diberi waktu luang, bingung mau ngapain sehingga menjadi tidak kreatif dan kehilangan orientasi. :(
Kami berdua mencoba berdiskusi untuk menemukan solusi atas masalah yang mengganggu kenyamanan hati ini. "Kenapa gak nulis lagi aja? Menulis "cahaya". Inspiring lhoo..!" celetuk sahabat saya. Ternyata beberapa waktu yang lalu, beliau mengintip blog pribadi saya dan menemukan sebuah cerpen tentang Cahaya. "Ya ampuun, sebegitu cintanya sama gue sampe blog gue di intip-intip" ledekku menimpali. Saya sempat menyembunyikan alamat blog saya pada beliau, tidak ada maksud apa-apa hanya ingin membuatnya penasaran saja. #hehe. "Kenapa kita gak nulis aja di twitter? nulis hal-hal yang bermanfaat? Kan bisa sekalian berdakwah?" kata beliau, sepertinya ia sudah menemukan solusinya. "Nanti, kita buat jadwal terbitnya, berapa kali seminggu gitu.."
Aku tersenyum. Inilah salah satu sifat yang saya sukai dari beliau. Dia ingin selalu bermanfaat bagi orang lain. Saya jadi teringat ketika kami pindah ke rumah kontrakan baru di Jalan Murni. Rumah kontrakan kami ini diberi nama "Pondok An-nahl" yang berarti pondok lebah atas usulan beliau yang ketika itu menjabat sebagai sekretaris pondok. "Kenapa "An-Nahl?" tanyaku. "Karena di sini ada yang jualan madu...heheheehe " jawabnya sambil tertawa. "Eh, bukan karena itu aja sih... itu sebenernya doa, semoga seluruh penghuni pondok ini menjadi lebah. Lebah itu kan binatang yang  menghasilkan madu yang memberikan manfaat bagi manusia, nah semoga kita bisa menjadi lebah yang bermanfaat dan menebar kebaikan pada siapa saja..."#supersekaliya. Saya sangat setuju dengan usul beliau dan karena saya sedang "gila-gilanya" menulis di blog, maka saya pun menawarkan untuk mengelola 2 akun, twitter dan blog.

Dan, Alhamdulillah hikmah dari kondisi yang kami alami saat ini melahirkan sebuah blog dengan judul "lebah penebar kebaikan", tepat di tanggal 22 Desember 2013. Untuk tahap awal, kami baru memulai dengan mengelola blog, untuk twitternya In Sya'a Allah menyusul. Iya kan Sri? (lirik sri Zhaw, penanggungjawab alias PJ pembuat Akun Twitter :p). Ya seperti yang saya ceritakan tadi, kami berdua berharap blog ini bisa menjadi wadah buat kami untuk menebar kebaikan semanis madu :), dan bisa sebagai wadah untuk berbagi (learn and share) seperti yang diceritakan sahabat saya dalam tulisannya Hasil tak Nak Bertasyabbuh... :) Amiin. Oh ya, alamat blog ini kami beri nama "long life tarbiyah" dengan harapan, sepanjang hidup kami tetap tertarbiyah sampai bertemu dengan Allah Azza wa Jalla. Amiiin.

Clossing statment dari saya, salah satu lebah pengelola blog ini, saya mengucapkan terimakasih untuk sahabatku di Kandis sana. Terimakasih atas ide yang luar biasa ini semoga menjadi amal jariyah buat kita berdua seperti kata Salim A. Fillah "Menulis, dari makna hingga daya". Dan, terimakasih bagi seluruh pembaca yang berkunjung ke blog ini semoga segala tulisan yang ada di sini bermanfaat buat sobat-sobat semua.

#mari menebar kebaikan seperti lebah :D
Salam Mahabbah dari ujung pulau Sumatera


January 9, 2014

Posted by Unknown On 12:22


KH. Jalaluddin Rakhmat

Dini hari di Madinah Al-Munawwarah. Aku saksikan sahabat-sahabat berkumpul di masjidmu. Angin sahara membekukan kulitku. Gigiku gemeretak, kakiku berguncang. Tiba-tiba pintu hujrahmu terbuka. Dan kau datang, ya Rasulallah. Kami pandang dikau. "Assalamu 'alaika ayyuhan nabi warahmatullahi wabarakatuh," kudengar salam disampaikan bersahut-sahutan. Kau tersenyum, ya Rasulallah. Wajahmu bersinar. Angin sahara berubah hangat. Cahayamu memasuki seluruh daging dan jiwaku. Dini hari Madinah berubah menjadi pagi yang indah.

Kudengar kau bersabda, "Adakah air pada kalian?"

Cepat-cepat kutengok gharibah-ku. Kulihat para sahabat yang lain sibuk memeriksa kantong mereka, "Tak ada setitik air pun, ya Rasulallah." Kusesali diriku, mengapa tidak kucari air yang cukup sebelum tiba di masjidmu. Beruntung benar sekiranya kubasahi wajah dan tanganmu dengan percikan air dari kantung airku.

Kudengar suaramu yang indah, "Bawakan padaku wadah yang masih basah." Aku ingin loncat mempersembahkan gharibah airku tapi ratusan sahabatmu berdesakan mendekatimu. Kau ambil satu gharibah air yang kosong. Kau celupkan jari jemarimu yang mulia. Subhanallah, kulihat air mengalir dari sela-sela jemarimu. Kami berdesakan, berebutan berwudu dari pancuran sucimu. Betapa sejuk air itu ya Rasulallah. Betapa harum air itu ya Nabiyallah. Betapa lezat air itu, ya Habiballah. Kulihat Abdullah bin Mas'ud pun mereguk sepuas-puasnya. Qad qâmatish shalâh, qad qâmatish shalah....

Alangkah bahagianya aku bisa salat di belakangmu, ya Sayyidal Anâm. Ayat-ayat suci mengalir dari suaramu. Melimpah, memenuhi jantung dan seluruh pembuluh darahku.

Usai salat subuh, kau pandangi kami, masih dengan senyum yang indah itu. Cahaya wajahmu, ya Rasulallah, tak mungkin aku lupakan. Ingin kubenamkan setetes diriku dalam samudera dirimu. Ingin kujatuhkan sebutir pribadiku pada sahara tak terhingga pribadimu.

Kudengar kau berkata, "Menurut kalian, siapakah mahluk yang paling menakjubkan imannya?"

Kami jawab serempak, "Malaikat, ya Rasulallah."

"Bagaimana mereka tak beriman, padahal mereka berada di samping Tuhan mereka?" jawabmu.

"Kalau begitu para nabi, ya Rasulallah."

"Bagaimana mereka tak beriman, bukankah wahyu turun kepada mereka?"

"Kalau begitu kami, sahabat-sahabatmu, ya Rasulallah."

"Bagaimana kalian tak beriman padaku padahal aku berada di tengah-tengah kalian? Bagaimana sahabat-sahabatku tidak beriman? Mereka menyaksikan apa yang mereka saksikan." Aku tahu, ya Rasulallah, kami telah saksikan mukjizatmu. Kulihat wajahmu yang bersinar, kulihat air telah mengalir dari sela jemarimu, bagaimana mungkin kami tak beriman kepadamu. Kalau begitu siapa ya Rasulallah, orang yang kau sebut paling menakjubkan imannya?

Langit Madinah bening, bumi Madinah hening. Kami termangu. Ah, gerangan siapa mereka itu? Siapa yang kaupuji itu, ya Rasulallah? Kutahan napasku, kucurahkan perhatianku. Dan bibirmu yang mulia mulai bergerak, "Orang yang paling menakjubkan imannya adalah kaum yang datang sesudahku. Yang beriman kepadaku, padahal mereka tak pernah melihat dan berjumpa denganku. Yang paling menakjubkan imannya adalah orang yang datang setelah aku tiada. Yang membenarkan aku padahal mereka tak pernah melihatku. Mereka adalah saudara-saudaraku." Kami terkejut. "Ya Rasulallah, bukankah kami saudaramu juga?" Kau menjawab, "Benar, kalian adalah para sahabatku. Adapun saudaraku adalah mereka yang hidup setelah aku. Yang beriman kepadaku padahal mereka tak pernah melihatku. Merekalah yang beriman kepada yang gaib, yang menunaikan salat, yang menginfakkan sebagian rezeki yang diberikan kepada mereka...(QS. Al-Baqarah; 3)"

Kau diam sejenak ya Rasulallah. Langit Madinah bening, bumi Madinah hening. Kudengar kau berkata, "Alangkah rindunya aku berjumpa dengan saudara-saudaraku. Alangkah beruntungnya bila aku dapat bertemu dengan saudara-saudaraku."

Suaramu parau dan butiran air mata tergenang di sudut matamu. Kau ingin berjumpa dengan mereka, ya Rasulallah. Kau rindukan mereka, ya Nabiyallah. Kau dambakan mereka, ya Habiballah....

Wahai Rasulullah, kau ingin bertemu dengan mereka yang tak pernah dijumpaimu, mereka yang bibirnya selalu bergetar menggumamkan shalawat untukmu. Kau ingin datang memeluk mereka, memuaskan kerinduanmu. Kau akan datang kepada mereka yang mengunjungimu dengan shalawat. Masih kuingat sabdamu, "Barangsiapa yang datang kepadaku, aku akan memberinya syafaat di hari kiamat." Yâ wajîhan 'indallâh, isyfa'lanâ 'indallâh. Wahai yang mulia di sisi Allah, berikanlah syafaat kepada kami di sisi Allah...

Hemm...
Semoga kita termasuk orang-orang yang dirindui oleh Rasulullah ya!!!
SEMANGAT!!!

January 3, 2014

Posted by Unknown On 21:37



Bismillah...

Di penghujung 2013 yang sudah menua, dengan tak adanya acara televisi yang menarik minat hati, ditambah lagi dengan riuhnya kondisi di luaran sana, terompet yang sahut menyahut, dan balapan kereta trail yang hari ini jadi acara rating pertama di kampungku, Sp.1 Trans Umum, Cinta Damai (yah nama ini mungkin akan sedikit tidak sesuai mengingat bagaimana desa ini malam ini menghabiskan malam akhir tahun ini), Tapung Hilir, Kampar, Riau. 
Dalam kondisi seriuh itu, aku seperti biasa, tergugu diam, tak bercampur, tak membaur, tapi itu memang tradisi diriku, seperti ini memang biasanya aku menghabiskan malam yang disebut malam tahun baru masehi itu, paling tidak seingatku seperti itu.
Tapi malam ini, sedikit berbeda, karena dari penjuru provinsi yang berbeda, dari sebuah pulau yang terkenal dengan indah pantai, besar ombak dan ombo batunya, ada seorang gadis yang juga merasakan hal yang sama dengan yang kurasa, malam ini kami hanya tak ingin bertasyabbuh riuh mengikut budaya yang tak pernah samasekali dicontohkan nabi kami, Muhammad SAW. Lalu dengan perasaan yang sama, dengan semangat yang juga sama-sama sedang berada di tempat yang tidak seharusnya, kami berfikir apa yang seharusnya kami lakukan.Dan inilah yang kami lakukan malam ini....

Menulis, mengeluarkan unek di benak yang sudah bercokol berjenak, paling tidak ini bisa mengumpulkan kembali semangatku dan semangatnya harapku, yang sedang terserak tak tentu arah. Malam ini aku tak punya tema khusus, tapi aku ingin menuliskan sedikit hal yang aku dapat beberapa hari terakhir, berharap ini dapat memercikkan sedikit manfaat untuk kita.

Tentang learn-share, belajar-berbagi...
Dua buah kata yang kudapat dalam perjalanan terakhirku, dua kata yang cukup untuk menyadarkan aku yang sedang berada dalam keterguguan, tentang hakikat hidupku yang mungkin sedang “terhenti” selama beberapa waktu terakhir. Kenapa? Memangnya apa menariknya sih, itu kan cuma dua kata bahasa Inggris yang biasa aja, iya sih, emang iya sih, itu hanya dua kata yang biasa saja, tapi itu kalau kamu tidak memaknainya, apalagi melakukannya, hanya melihatnya saja, itu akan menjadi kata-kata yang biasa saja. Tapi tentu akan berbeda, kalau dimaknai betul apalagi sampai dilakukan dalam hidup ini, teman. Hmmm... kenapa?

Ya mungkin apa yang akan ku katakan ini akan terlalu abstrak bagimu, tapi setidaknya ini menggugahku untuk tidak terus tetap berdiam diri dalam hidup yang “begini-begini” saja.
Baiklah, kita semua tentu ingin hidup bahagia kan? Lantas apa yang kita lakukan untuk hidup bahagia? 
Iya, kalo mau bahagia, kita terlebih dahulu harus belajar bahagia, belajar mencari bagaimana bahagia itu, belajar bagaimana menjaga bahagia itu dan belajar, belajar, dan terus belajar. Kalau tidak belajar tentu tidak tahu kan, maka itu, kita harus SELALU belajar... darimana saja, dari apa saja, kapan saja. Anda siap kan menjadi sang pembelajar? Hmmm... Bagus... (y) 

Nah, kalo udah belajar kan udah pintar, udah tau dan udah bisa, udah BAHAGIA dong ya? Bisa jadi, 
bisa jadi *ini acara apa ya? hehe, tapi belum WOWW kalo aku bilang mah, kenapa? 
Tapi ini aku yang bilang ya, mau percaya monggo, ga percaya ya juga monggo, kalo aku ambil pengibaratan, misalkan nih ya, ada gelas kosong, yang terus-terusan diisi ga dikeluar-keluariin, jadinya apa, penuh terus tumpah tumpah kan ya, jadinya apa? Mubazir kan ya? Nah, gitu juga sama kita, jadi biar apa yang kita dapat itu ga mubazir dan ga tumpe tumpe, apa nih yang kita lakuin? Iyaap, betul sekali, Bagikan, share... Jadi manfaatnya ga jatuh di kita aja, ga menumpuk di kita aja, tapi juga ke orang lain yang kena bagi-bagi dari kita, rugi? Hmmm... Insyaallah, ga rugi. Ga percaya? Coba aja deh, ntar kalo punya sesuatu, apapun, mau uang, ilmu, pendapat, tenaga, ide, atau bahkan hanya seuntai senyum manis atau serangkai doa indah untuk sekitar atau apapun dari kamu yang ada yang bisa di bagi, coba aja bagiin!!! terus setelah itu rasain apa rasanya, (kalau kamu mau bagi-bagi apa rasanya, boleh juga, biar orang lain ikutan termotivasi untuk bagi-bagi) dan jangan takut, adegan bagi-bagi ini ga mesti 
dilakukan oleh profesional kok, bisa oleh siapa aja dan bisa dilakukan dimana saja, so try this at home or anywhere ya!!! Anda siap kan jadi sang pembagi?
Nah, bukan berarti dengan menulis ini akunya sudah khatam dalam hal belajar-berbagi, aku juga masih nol, tapi aku hanya ingin berbagi apa yang ku pelajari dan dapat dalam perjalanan terakhirku, semoga ada manfaat teman! Kalau kalian bisa lebih maju dalam hal belajar-berbagi ini tentu aku akan menjadi yang pertama sekali berbahagia. Jadi, mari terus belajar-berbagi, teman... 

Dan, terkait malam tahun baru ini, sudahlah... jangan heboh terikut euforia budaya oranglah, kasihan besok tukang bersih-bersih jalan ngebersihin sampah yang berserak hasil heboh-heboh malam ini... LKalaupun mesti ada hal yang kita lakuin, ayolah renungin, muhasabahin capaian apa yang udah kita lakuin di 2013 Masehi ini, dan apa yang mesti kita capai lagi di 2014 nanti, belajar-berbagi mesti jadi salah satu agenda dong ya tentunya, haha... oke!!! Bye...

Wassalam...
Salam sukses bahagia dunia akhirat.